pertahanan kesahatan imunisasi  

Jumat, Maret 06, 2009

Pertahankan Kesehatan Lewat Imunisasi Dewasa


Pertahankan Kesehatan Lewat Imunisasi Dewasa
Gizi.net - Imunisasi diperlukan untuk mencegah meluasnya penyakit-penyakit tertentu dan menghindari risiko kematian yang diakibatkannya. Imunisasi merupakan upaya untuk mencegah penyakit lewat peningkatan kekebalan tubuh seseorang. Selama ini, imunisasi lebih banyak diberikan pada masa anak-anak. Padahal, untuk mempertahankan kesehatan, imunisasi tak hanya untuk anak-anak.

Orang dewasa pun perlu mendapatkan imunisasi. Dari pertemuan tahunan di Amerika Serikat tahun 2001, imunisasi pada orang dewasa dapat mencegah kematian seratus kali lipat dibandingkan dengan anak-anak. Kenyataan seperti itu memperlihatkan bahwa tak hanya anak-anak yang perlu mendapatkan imunisasi, tapi juga orang dewasa.

Selain bertujuan untuk meningkatkan kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit, imunisasi juga memiliki tujuan akhir untuk menghapuskan (eradiksi) suatu penyakit dari muka bumi. Karena itu, upaya kesehatan penting dilakukan untuk mempertahankan kesehatan.

Masalah inilah yang dibahas Prof DR Dr Samsuridjal Djauzi SpPD(K), terutama soal imunisasi dewasa dalam pidato pengukuhan guru besar tetap di FKUI di Jakarta, beberapa waktu lalu. Prof Samsuridjal mengatakan, imunisasi dewasa dapat mendukung program Indonesia sehat 2010.

''Manfaat imunisasi terbukti dengan keberhasilan dunia melenyapkan penyakit cacar tahun 1977. Dalam waktu yang tak terlalu lama lagi, diharapkan polio juga dapat dieradiksi,'' paparnya. Data kondisi lingkungan Indonesia tahun 2000 masih belum mendukung upaya pencegahan penyakit menular. Dari penduduk yang ada, keluarga yang mempunyai rumah sehat baru 84,51 persen.

Mereka yang dapat menikmati air bersih mencapai 72,97 persen, dan jamban sehat hanya 58,1 persen. Berdasarkan data tersebut, tak heran bila di masyarakat masih banyak berjangkit penyakit menular, berlanjutnya penyakit yang belum dapat diatasi, munculnya penyakit lama, dan berbagai penyakit degeneratif.

Untuk itulah, imunisasi diperlukan guna mencegah meluasnya penyakit-penyakit tertentu dan menghindari risiko kematian yang diakibatkannya. Ada beberapa jenis imunisasi untuk orang dewasa yang penting diperhatikan. Jenisnya antara lain hepatitis B, hepatitis A, tetanus, MMR, tifoid, influenza, pneumokok, meningokok, dan lain-lain. Ada pula vaksin kombinasi yang merupakan gabungan beberapa antigen menjadi suatu jenis produk untuk mencegah penyakit yang berbeda.

Contoh vaksin kombinasi adalah MMR-varisela, yaitu gabungan campak (measle), gondongan (mumps), campak jerman (rubella), dan varisela. ''Vaksin kombinasi dianjurkan yang dikemas di pabrik, bukan dicampurkan pada saat akan digunakan,'' tandas Samsuridjal. Data internasional menunjukkan bahwa efektivitas vaksin hepatitis B dalam mencegah penyakit, sebesar 80 sampai 95 persen. Efektivitas ini menurun pada kelompok usia lanjut. Vaksin Influenza dapat menurunkan insiden penyakit ini sebesar 70 sampai 90 persen.

Untuk efektivitas vaksin pneumokok adalah 60 sampai 64 persen, tapi di usia di atas 65 tahun, efektivitasnya hanya 44 sampai 61 persen. ''Ada beberapa imunisasi yang perlu diulang agar imunitas timbul pada kelompok non-responder dan dapat mencapai 90 persen,'' rinci Samsuridjal. Dijelaskannya pula, penelitian pada orang dewasa kurang dari 65 tahun memperlihatkan bahwa imunisasi influenza dapat mengurangi biaya pengobatan langsung maupun tak langsung akibat kehilangan hari kerja.

Tak hanya itu saja, kunjungan ke dokter berkurang 34 sampai 44 persen, kehilangan kerja menurun 32 sampai 45 persen, dan penggunaan antibiotik untuk penyakit sekunder berkurang 25 persen. Analisis tentang efektivitas biaya memperkirakan penghematan rata-rata sebesar 60 sampai 4.000 dolar AS per orang di antara orang sehat umur 18 sampai 64 tahun. ''Penghematan itu bergantung pada harga vaksin, tingkat serangan influenza, dan efektivitas vaksin melawan sakit yang menyerupai influenza,'' tandas direktur utama RS Kanker Dharmais ini. Ada beberapa kasus di mana imunisasi harus diperhatikan secara khusus.

Imunisasi pada orang alergi telur dengan menggunakan vaksin berkomponen telur, dapat menimbulkan reaksi alergi. Demikian juga untuk mereka yang terinfeksi HIV. Mereka akan mengalami imunokompromais sehingga tak dianjurkan mendapat vaksin kuman atau virus hidup. Bagi mereka yang baru mendapatkan kemoterapi dalam pengobatan kanker, sambung Samsuridjal, pemberian vaksin hidup perlu ditunda tiga bulan atau sampai status imun pulih.

Sedangkan untuk penderita pengguna obat steroid sistemik dosis tinggi (lebih 2 mg/Bg BB) selama dua minggu atau lebih, baru dapat diberikan vaksin hidup setelah sebulan menghentikan steroidnya. Saat ini, masih banyak penyakit menular yang mungkin dapat dicegah lewat imunisasi. Vaksin yang tengah dikembangkan adalah untuk malaria, HIV, DHF, H pylori, dan sitomegalo.

Kondisi imunisasi dewasa di Indonesia selama ini, imbuh Guru Besar Tetap Ilmu Penyakit Dalam FKUI ini, kurang diperhatikan. Ini disebabkan karena kurangnya informasi mengenai efektivitas vaksin, belum adanya pedoman, layanan vaksinasi yang masih terbatas, dan harga vaksin yang tak terjangkau.

Faktor lain seperti belum adanya dukungan pembiayaan imunisasi dalam asuransi kesehatan juga termasuk salah satu yang membuat imunisasi dewasa kurang populer. ''Untuk itu, perlu adanya sosialisasi tentang imunisasi dewasa. Cara-cara sosialisasi untuk imunisasi anak yang menunjukkan hasil yang menggembirakan dapat ditiru. Pemahaman pentingnya imunisasi dewasa perlu diinformasikan. Karena itu, perlu dibentuk pula tim imunisasi dewasa,'' cetusnya.

AddThis Social Bookmark Button


1 komentar: to “ pertahanan kesahatan imunisasi

  • Unknown
    8 Maret 2009 pukul 08.26  

    ayo imunisasi, imunisasi pada orang dewasa yang di programkan pemerintah baru pada imunisasi TT Wanita usia subur, calon pengantin dan ibu hamil, serta Vaksin meningitis pada jamaah calon haji/umroh.